Text
Ragam Pengolahan Teratai
Buku Ragam Pengolahan Teratai\\r\\nLuas perairan rawa di Indonesia mencapai 34,93 juta ha. Kalimantan Selatan dilaporkan memiliki luas lahan rawa sekitar 4.969.824 ha dan sekitar 119.523 h adalah lahan rawa lebak. Rawa lebak tersebar di daerah Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Tabalong. Sekitar 80% dari luas rawa lebak dimanfaatkan masyarakat sekitar perairan rawa sebagai areal persawahan untuk satu musim tanam selebihnya rawa lebak menjadi potensi tumbuhnya beragam tanaman air yang secara kovensional dan inovatif bisa dijadikan sumber daya alam yang bernilai ekonomis. Salah satu tanaman air yang tumbuh di perairan rawa dan secara turun temurun sudah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber pangan adalah teratai (Nymphaea pubesscens Wild).\\r\\nBuku ini merupakan satu buku yang jarang ditemukan di Indonesia karena kajian tentang tumbuhan teratai sebagai sumber pangan belum ada. Membaca buku ini membawa kita pada pemahaman tentang biologis tumbuhan teratai, morfologinya, potensi dan manfaat tumbuhan teratai mulai dari rimpang, petiole, daun, bunga, biji, dan umbinya. Biji teratai yang berukuran sangat kecil ternyata menyimpan sumber pangan yang istimewa dengan berbagai keunggulan fungsional. Demikian juga umbinya. Penulis buku ini telah memaparkan sifat fungsional tepung biji teratai, cara pengolahannya, sifat fungsionalnya setelah menjadi produk pangan olahan, serta peluang dan potensi biji teratai sebagai produk pangan lokal yang kaya manfaat dan benilai ekonomis.\\r\\nKajian sifat fungsional biji dan umbi teratai yang disampaikan penulis dalam buku ini membuka dan memberi peluang usaha bagi masyarakat terutama UMKM pangan lokal untuk berinovasi menghasilkan produk pangan fungsional berbasis biji teratai. Hasil kajian penulis melalui tahapan penelitian yang panjang menunjukkan bahwa biji teratai memiliki sifat antidiare, antimikroba, dan antidiabetes. Bipang biji teratai memiliki potensi sebagai camilan antidiare dan antidiabetes, biskuit tepung biji teratai yang sudah dimodifikasi berpeluang sebagai camilan antidiabetes\\r\\n\\r\\nDAFTAR ISI\\r\\n\\r\\nPRAKATA\\r\\nKATA PENGANTAR EDITOR VII\\r\\nDAFTAR ISI\\r\\nDAFTAR GAMBAR\\r\\n\\r\\nBAB 1 PENDAHULUAN\\r\\n\\r\\n1.1 Nymphaeales 1\\r\\n1.2 Teratai Nymphaea\\r\\n\\r\\nBAB 2 KARAKTERISTIK BIJI DARI ORDO NYMPHAEALES 14\\r\\n\\r\\n2.1 Karakteristik Biji 14\\r\\n2.2 Komposisi Kimia Biji Teratai 17\\r\\n2.3 Histokimia Biji Teratai Nymphaea pubescens Wild 20\\r\\n\\r\\nBAB 3 PENGOLAHAN BIJI TERATAI 25\\r\\n\\r\\n3.1 Pengolahan Berondong Biji Teratai dari Daerah Kalimantan Selatan, Indonesia 26\\r\\n3.2 Pengembangan Olahan Berondong Biji Teratai Nymphaea pubescens\\r\\n3.3 Pengolahan Berondong Biji Teratai di India 39\\r\\n3.4 Pengolahan Berondong dari Biji Euryale ferox 41\\r\\n3.5 Pengolahan Pangan dari Tepung Biji Teratai 45\\r\\n\\r\\nBAB 4 UMBI TERATAI DAN PENGOLAHANNYA\\r\\n\\r\\n4.1 Komposisi Kimia Umbi Teratai 53\\r\\n4.2 Pengolahan Umbi Teratai 55\\r\\n\\r\\nBAB 5 PENUTUP 58\\r\\n\\r\\nDAFTAR PUSTAKA 59\\r\\n\\r\\nGLOSARIUM 65
No other version available